Rumah Kontrakan, Senin 29/11/2010
‘Tidak ada hal yang menarik di sekitar kita’, mungkinkah itu menjadi penyebab bingung menentukan tema tulisan? Hal kecil dan remeh pun bisa menarik saat bisa dilihat dengan sudut pandang yang baru, yah paling tidak itu yang pernah aku dengar dari orang-orang dewasa yang berpengalaman dan cerdas.
Kita merasa nyaman melihat sesuatu dari sudut pandang tertentu, dan malas melihat dari sudut pandang yang lain.
Sahabat mencontohkan, saat melihat gelas, seorang berlatar psikologi mungkin melihat sebuah wadah jiwa manusia yang bisa dilihat setengah kosong atau setengah isi. Seorang berlatar ekonomi akan melihat harga material gelas tersebut, proses pembuatannya, dan persaingan perdagangan gelas. Nah, setiap mata menghasilkan kesimpulan yang berbeda kan?
Coba kita jawab iseng pertanyaan ini, ‘mungkinkah kita kehabisan bahan untuk menulis’? Rasanya tidak. Tapi apabila pertanyaannya seperti ini,’berminatkah kita mencoba mengutak-atik sudut pandang kita terhadap suatu hal?’ Hmm, bagiku pribadi, jawabannya adalah ‘belum tentu’! Butuh mikir sih, bro! Hahaha….
Untuk iseng melihat sesuatu dengan sudut pandang lain, bisakah kita membayangkan diri kita menjadi orang lain?
Laptop atau komputer wajib dikuasai wartawan. Nah, kemudian, rasanya cukup menarik membayangkan apa yang ada di benak para pemulung pasar Progo saat mereka disodorkan sebuah laptop dan diminta mengetik.
Hal sebaliknya pun begitu saat kita disuruh menguasai penggunaan sebuah karung goni dan batang besi berkait untuk mengais sampah. Bukan soal kaya-miskin atau tinggi-rendah, ini hanya soal penguasaan ‘senjata’ dalam profesi masing-masing.
Mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang lain. Hal kecil itu rasanya menjadi kunci yang cukup ampuh untuk menemukan tema menulis ya?
Hahaha, pada akhirnya, aku rasa hal kecil ini membutuhkan latihan, latihan, latihan, dan latihan terus menerus.
Mari kita mencoba.
seingatku menulis itu adalah soal kemauan. apapun bisa ditulis, karena menulis hanya sekedar merangkai huruf dan kata. konteks, tema, atau angle itu soal lain, yang terpenting adalah mau untuk melihat mendengar dan merasakan, lalu tulis. salam tribun
ReplyDelete"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." - Pramudya Ananta Toer
ReplyDeletemaka menulislah, Dik Inug, terutama sebelum menulis menjadi tak lebih dari rutinitas dan menentukan angle berbeda menjadi spontanitas :D. saat itu, dirimu akan menyebut diri sebagai wartawan tulis ... (yang dikejar deadline)