Saturday, 22 January 2011

Saya ingin merawatnya dan berada bersamanya selalu

Malam yang teduh. Yesus lahir di palungan yang panas namun tertiup angin yang teramat dingin dan dengan bau kotoran binatang yang menyesakkan. Dialah Tuhan kita, yang sekarang ada di dalam gua kecil di setiap rumah. “Aku lahir, aku ada di rumahmu, lihatlah Aku,” ujar setiap bayi Yesus di dalam tiap rumah. “Hai, lihatlah Aku,” kata bayi Yesus lagi.


Setiap orang yang lewat guanya langsung mampir, melihat gua yang dihias kelewat indah sehingga tidak menggambarkan suasana aslinya, dan -bila tidak sedang sibuk- berdoa kepada bayi Yesus. Kepada setiap mereka yang datang, bayi Yesus selalu berteriak,”Halo, ini Aku. Kemari, peluklah Aku!” Namun sayang, entah kenapa setiap orang tidak mendengar teriakan bayi Yesus. Mungkin karena masih bayi, suara Yesus tidak terlalu keras, hanya seperti rengekan bayi yang tidak jelas apa maunya.


Yesus terus menerus berteriak. Bahkan kepada setiap umat di gereja yang merayakan kelahirannya. Sayang, jangankan umat, pria terdekat yang berdiri di depan para umat banyak pun tidak mendengarnya. “Hai kamu yang botak, kemarilah!” ujar bayi Yesus sambil tertawa kecil. Rupanya karena masih bayi, Yesus senang sekali melihat seorang pria berkepala plontos yang berdiri di depan umat banyak. Namun lagi-lagi sayang, pria itu terus sibuk berkata ini dan itu kepada orang-orang yang duduk di depannya. “Hai kalian semua, kamu yang botak, kamu yang berkacamata, kamu yang hatinya sedang menangis, kemarilah! Aku menunggu pelukanmu! Aku baru saja lahir, Aku butuh kehangatan darimu semua, udaranya dingin sekali saat ini, tolong peluk Aku,” kata bayi Yesus memohon. Namun sayang, lagi-lagi teriakan Yesus tidak dijawab.


Semua orang yang duduk di gereja itu begitu sibuknya mengucapkan sesuatu sambil terpejam, entah sedang berbuat apa. Ada yang bilang mereka sedang berdoa, menyatukan diri dengan Tuhannya. “Buat apa kalian berdoa jauh-jauh, Aku ada di sini,” teriak bayi Yesus. Ia semakin butuh bantuan para umat yang ada di sana karena Ia baru saja mengompol. Bayi Yesus membutuhkan seseorang untuk menggantikan popoknya. Maria dan Yusuf rupanya sedang tertidur lelap karena lelahnya.


Tidak lama, datanglah seorang anak perempuan, wajahnya lugu, berkacamata. Bentuk wajahnya aneh, cara berjalannya pun tidak biasa. “Hai, siapa kamu,” kata anak itu dengan suara yang sangat tidak jelas. Rupanya ia terlahir cacat. Bentuk bibirnya aneh, sehingga bicaranya sangat tidak karuan. Wah dia bisa mendengar suaraku, pikir bayi Yesus kaget. “Aku Yesus, Tuhanmu,” jawab Yesus. “Benarkah? Aku tidak tahu siapa kamu, tapi rupanya kamu butuh pertolongan, bayi kecil?” kata anak perempuan itu.


Bayi Yesus terbengong sebentar. Wah, anak perempuan ini baik sekali, tidak seperti umat yang lainnya, pikir bayi Yesus. “Ya, Aku baru saja mengompol, tolong gantikan popokku,” kata bayi Yesus. “Baiklah, tunggu sebentar ya,” kata anak perempuan itu. Ia mengambil kertas dan bolpoin dari kantong celananya, menuliskan sesuatu. Ia lalu memutarkan badannya, mengambil tongkat dan menyangganya di tangan kanannya. Anak perempuan itu ternyata cacat, dia tidak memiliki kaki kanan.


Perlahan, anak perempuan itu berjalan ke luar gereja hendak membelikan bayi Yesus popok berukuran kecil di warung seberang. Saat sedang menyeberang jalan, tanpa diduga, sebuah mobil mewah berwarna putih melaju teramat kencang dan menabraknya. Anak perempuan itu terlontar lima meter jauhnya.


Mata anak perempuan itu terbelalak besar sekali. Kepalanya bocor terbanting di aspal. Kaki kirinya mengarah ke sudut yang salah. Tongkatnya terpelanting masuk ke comberan. Kacamatanya yang pecah terlindas mobil. Ia masih sempat bernapas sebentar. “Haakk…. Hakkkk…. Hakkkk….” suara anak perempuan itu. Rupanya tulang lehernya patah, sehingga ia tidak bisa bernapas dengan normal.
Tidak sampai sepuluh detik, gadis itu tidak bernapas lagi. Matanya terpejam sekarang. Tangannya yang mengepal kuat perlahan terbuka. Di dalamnya ada selembar uang kertas dua ribu dan satu keping uang receh lima ratusan dan selembar kecil kertas.


“Saya mau membeli popok, tapi maaf uang saya kurang. Tolong dengan uang ini, berikan saya popok yang paling murah sekalipun tidak mengapa. Di dalam gereja ada seorang bayi laki-laki lucu yang sedang membutuhkan saya. Saya ingin merawatnya dan berada bersamanya selalu,” begitu isi surat tersebut.

No comments:

Post a Comment