Sabtu, 09 Oktober 2010, 17:00, ruang HRD K-24 Academy, Kampus STIE YKP, Godean
Sore hari, di teras rumah, bapakku sedikit bercerita tentang pengalamannya dalam membaca buku Wisnu Nugroho, Pak Beye dan Istananya. Bapak cukup terkesan dengan tulisan Wisnu Nugroho yang berhasil menemukan hal-hal kecil yang unik, tapi cukup menggelitik tanpa memberikan tendensi apapun.
Bapak menyimpulkan bahwa Wisnu terlatih untuk mengamati dan menemukan hal-hal detail yang seringkali dipandang remeh oleh orang lain. Menurutnya, itulah salah satu ciri khas orang filsafat, terbiasa melihat sesuatu yang seringkali tidak menjadi perhatian orang lain.
Wow, pikirku saat itu. Aku sama sekali belum terbiasa melakukan hal seperti itu. Aku tidak terbiasa melihat hal-hal yang kecil dan sepele di sekitarku. Saat itu, aku berpikir bahwa tidak ada salahnya untuk mencobanya, siapa tahu itu akan membawaku ke dunia yang lain dan cara berpikir yang baru. Siapa tahu, dengan mencoba membiasakan diri seperti yang mas Wisnu Nugroho lakukan, aku bisa menemukan dunia baru di lingkungan yang sebetulnya sudah biasa bagiku, tetapi belum pernah aku sadari sebelumnya. Wow, pasti menyenangkan ya!
Mas Wisnu Nugroho atau mas Inu, adalah lulusan sekolah filsafat. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila dia terbiasa mengamati sesuatu dan berpikir dengan cara yang cukup berbeda dari kebanyakan orang.
Kata filsafat sendiri berasal dari bahasa Yunani, philia dan sophia, yang jika diartikan secara harafiah dalam bahasa Indonesia berarti pencinta kebijaksanaan. Beberapa ciri khas dari cara pandang ala filsafat adalah rasa penasaran, ketertarikan, spekulasi, dan keraguan.
Filsafat selalu mencoba mengamati berbagai hal dari sudut pandang yang berbeda dari cara pandang orang kebanyakan, tidak biasa, sampai terkadang mendapat celetukan usil sebagai kurang kerjaan dan aneh. Saat kebanyakan orang menilai sesuatu sebagai hal yang biasa-biasa saja, filsafat mencoba mencari sesuatu yang tidak biasa dari kebiasasajaan tersebut. Saat kebanyakan orang tidak melihat suatu detail yang sebenarnya memiliki arti yang dalam, filsafat menemukannya. Saat orang banyak meremehkan suatu hal kecil, filsafat menganggapnya sebagai suatu hal yang penting.
Mungkin itu sebabnya beberapa orang yang terbiasa bergelut dengan filsafat, mampu menyuguhkan suatu data dan pemikiran yang unik dan segar. Dalam hal ini termasuk mas Inu.
Pagi ini, dalam perjalanan berangkat bekerja, aku iseng mencoba mencari hal-hal kecil yang bisa dibilang 'blas ga mutu'. Beberapa data unik aku dapatkan. Benar-benar bukan hal yang penting, bahkan aku sampai menertawakan diriku sendiri atas hal-hal yang menurutku bersifat sebagai temuan tersebut.
Stiker logo embassy di lampu belakang sepeda motor orang lain. Apa yang unik dari hal tersebut? Sepertinya itu hal yang biasa saja (dengan wajah meremehkan). Iya memang, tetapi stiker tersebut ada di lampu sepeda motor yang 'agak kurang bagus'. Kesimpulan yang muncul adalah stiker tersebut diperoleh dari embassy club, saat orang tersebut sedang ber-clubbing ria di sana. Dari sini, materi untuk ngobrol-dengan-diri-sendiri pun muncul. Materi yang muncul adalah pengamatan tentang sering ditemukannya beberapa individu yang memiliki pendapatan finansial pas-pasan, tetapi memiliki gaya hidup yang cukup heboh (asosiasi yang muncul dari motor butut versus stiker embassy - mungkin stiker tersebut hanya secara kebetulan dipasang di motor itu, tapi biar saja, yang penting aku bisa menemukan materi diskusi-dengan-diri-sendiri yang cukup asyik).
Hal kedua yang aku temukan adalah seorang ibu sesama pengendara motor yang memakai sandal jepit plastik berwarna cokelat. Yang unik adalah warna kulit tepi telapak kaki kanannya yang agak berbeda, warnanya putih kemerahmudaan, seperti bekas terbakar. Kesimpulan yang muncul adalah bahwa ibu tersebut pernah mengalami kecelakaan api atau panas yang amat sangat pada kakinya. Materi diskusi yang muncul berikutnya adalah tentang kemungkinan kecelakaan kecil yang bisa saja terjadi pada setiap orang. Hal yang sepele sekalipun terkadang bisa menyebabkan kecelakaan, seperti tidak sengaja menginjak kaca atau paku, menginjak atau menyentuh material panas, dan lain-lainnya.
Ternyata hal-hal kecil yang sepele seperti itu bisa membawa pikiran kita ke sesuatu yang lebih besar. Sempat juga terlintas pemikiran bahwa dari data-data kecil dan sepele tersebut, bisa membuat kita lebih mengenal seseorang. Tetapi, aku sendiri masih sering merasa ragu saat membuat suatu kesimpulan atas hal kecil yang kutemukan, rasanya masih terlalu 'ngawur'. Pertama karena aku belum terlatih untuk membuat kesimpulan-kesimpulan atas data yang kutemukan, dan yang kedua karena masih terlalu banyak kemungkinan yang bisa terjadi atas 'data kebetulan' tersebut. Bisa saja sepeda motor berstiker logo embassy yang diceritakan tadi hanya sepeda motor pinjaman, dan telapak kaki ibu tadi memang cacat sejak lahir.
Aku hanya mencoba mencari data sepele yang unik dari sekitarku, dengan usil mencoba membuat kesimpulan atasnya, dan menemukan suatu permasalahan yang lebih besar. Permasalahan yang kutemukan tersebut cukup membuatku nyaman berdiskusi dengan diri sendiri, sehingga perjalanan 10 menit ke kantor pun menjadi cukup seru.
Hehehe, pada akhirnya memang dinamika yang kualami di jalan pagi tadi rasanya cukup 'ga mutu', tapi aku merasa menikmatinya. So, why not?
sips...sips...
ReplyDeleteCoba sekarang sebagai psikopat..mulai deh menganalisa PP FB (Picture Profile Facebook)...hehe.. pasti ada yg bisa dianalisa hehe
usul yg agak serius: Baca Buku SADHANA, Anthony de Mello :D
hahaha.... analisa lewat poto di fesbuk kok piye, boleh juga tuh jadi mata kuliah baru di fak. psikologi. Psikologi Kepribadian - analisa foto di situs sosial... xixixiii....
ReplyDeleteWokey, wokey mas... Aku coba cari bukunya yawh, thx banget mas... =)
Ijin comment aja deh gan. Gi males baca.... hahaha.....
ReplyDeleteBanyak entrepreneur berhasil karena mereka think out of the box, mencari bagaimana seseorang (atau bahkan seekor dan sebatang!) mengindera dari sudut pandang mereka, bukan sudut pandang dirinya. Hal itu akan mengkover semua aspek yang tidak nampak, tidak pernah diperhatikan, namun nyatanya esensial.
ReplyDeleteBukankah seekor anjing sebenarnya suka mandi debu? Lalu apa yang harus dilakukan seorang produsen makanan anjing dengan mengetahui fakta itu? Nambahin ilustrasi, selain stiker embassy (yang aku pernah beli seharga tiga rebu, gaperlu mbayar cocktail atau atau liquor lain yang harganya bisa seratus kali lipat. Bisa sih dapet separo harga, asal bawa cewek pake miniskirt, hahaha). Dan juga sendal warna cokelat (mungkinkah sang sendal terlalu tipis, sedangkan si ibu mempunyai mobilisasi yang bahkan melebihi angkot 24 jam, sehingga kaki bagian tepinya terbakar panas aspal? gatau dah, cuma mencoba think out of the box, tapi maksa wakakaka)
Ada buku bagus, judulnya What the Dog Saw, 70rebu, Gramedia. menurutku lebih menarik daripada buku Pak Beye dan Istananya. mungkin karena subjek bahasannya kali yeeeee *piss bos Beye!* :p
Boleh kok mampir di blog saya, Gan :D
Memaknai hal kecil membuat kita bisa terus mensyukuri hidup sehingga tak ada waktu yang terbuang sia-sia.. :D
ReplyDeleteTopiknya bagus, bang.. Kembangkan! :*